“Teruntuk kamu yang pernah
mengindahkan hariku pula menyuramkan hariku, mantan kekasih yang berinisial WA”
Awal pertemuan kami
yang singkat kesannya dia cuek jutek tapi manis, aku juga begitu cuek tapi
sesekali ku curi pandang tanpa mencuri perhatian, setelah liburan bersama
temanku yang juga temannya usang kami
beranjak pulang dan saat itu tidak ada lagi bentuk dari kedekatan, dan saat itu
pula aku masih pacaran sama teman satu sekolahannya, berselang beberapa hari
muncul nomor tak di kenal melalui via sms dan menanyakan.
apakah ini
imam?...
“spontan jawabku” iya, ini siapa ya.
Percakapan
melalui via sms mengawali kedekatan kami, sampai kami pacaran dan dia menyuruhku
memilih antara dia dan pacarku, karana saat itu aku sedang mendua, lantas aku
lebih memilih dia tidak tahu mengapa, mungkin karna dia memikatku sejak awal
bertemu, kenangan memang selalu merindukan.
Berjalan waktu kami pacaran dan banyak yang
kami lakukan berdua selayak orang pacaran pada umumnya, tetapi hari yang paling
mengesankan adalah saat liburaan, kami pergi ke pantai ketika itu kami
kehujanan dan aku memeluknya di bawah pohon sembari berteduh, masa itu yang akan selalu aku indahkan sampai aku
lupa ingata.
setahun berjalan kami saling mencintai saling
menyayangi tak dipungkiri ada juga yang menyayat hati, dia selalu meng iya kan
ketika temannya me nidakkanku, sampai saat terlalu banyak konflik antara kami
tentang kesibukanku yang sampai lupa untuk menghubunginya, mungkin keasikanku
atas pekerjaanku karna selain mencintainya aku juga mencintai pekerjaanku.
dia memang tempramental selalu emosi dan aku
seringkali menyabarkan dan berkata; “jangan
mengabil keputusan dengan emosi karna akan merugikan kita berdua” dan amarahnya pun reda, sangat sering kejadian
seperti itu bahkan aku pernah menangis
dihadapannya ketika dia mengucapkan kata yang tak sepantasnya dia katakan, tak
sepantasnya dia ucapkan, dan seperti biasa aku selalu meredakan amarnya yang
meledak-ledak tanpa terkontrol oleh pikirannya.
Pada suatu hari
ketika aku bosan dengan kemarahannya yang selalu memojokanku seakan dia tak
pernah salah, dan ketika dia mengucapkan sepatah kata “putus” dengan langtang
aku meng “iya” kan karna keletihanku yang selalu mengalah terhadapnya, tapi
baik buruknya dia takan aku lupakan karna telah memberikan warna dalam hidupku.
“Rintik hujan malam ini mengantarkan
kenangannku kepadamu”
Imam
Kasogi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar