Minggu, 02 Desember 2012

HUJAN MENYULAM KENANGAN



“Teruntuk kamu yang pernah mengindahkan hariku pula menyuramkan hariku, mantan kekasih yang berinisial WA”

Awal pertemuan kami yang singkat kesannya dia cuek jutek tapi manis, aku juga begitu cuek tapi sesekali ku curi pandang tanpa mencuri perhatian, setelah liburan bersama temanku yang juga temannya  usang kami beranjak pulang dan saat itu tidak ada lagi bentuk dari kedekatan, dan saat itu pula aku masih pacaran sama teman satu sekolahannya, berselang beberapa hari muncul nomor tak di kenal melalui via sms dan menanyakan.
apakah ini imam?...
 “spontan jawabku” iya, ini siapa ya.
Percakapan melalui via sms mengawali kedekatan kami, sampai kami pacaran dan dia menyuruhku memilih antara dia dan pacarku, karana saat itu aku sedang mendua, lantas aku lebih memilih dia tidak tahu mengapa, mungkin karna dia memikatku sejak awal bertemu, kenangan memang selalu merindukan.
 Berjalan waktu kami pacaran dan banyak yang kami lakukan berdua selayak orang pacaran pada umumnya, tetapi hari yang paling mengesankan adalah saat liburaan, kami pergi ke pantai ketika itu kami kehujanan dan aku memeluknya di bawah pohon sembari berteduh,  masa itu yang akan selalu aku indahkan sampai aku lupa ingata.
 setahun berjalan kami saling mencintai saling menyayangi tak dipungkiri ada juga yang menyayat hati, dia selalu meng iya kan ketika temannya me nidakkanku, sampai saat terlalu banyak konflik antara kami tentang kesibukanku yang sampai lupa untuk menghubunginya, mungkin keasikanku atas pekerjaanku karna selain mencintainya aku juga mencintai pekerjaanku.
 dia memang tempramental selalu emosi dan aku seringkali menyabarkan dan berkata; “jangan mengabil keputusan dengan emosi karna akan merugikan kita berdua”  dan amarahnya pun reda, sangat sering kejadian  seperti itu bahkan aku pernah menangis dihadapannya ketika dia mengucapkan kata yang tak sepantasnya dia katakan, tak sepantasnya dia ucapkan, dan seperti biasa aku selalu meredakan amarnya yang meledak-ledak tanpa terkontrol oleh pikirannya.
Pada suatu hari ketika aku bosan dengan kemarahannya yang selalu memojokanku seakan dia tak pernah salah, dan ketika dia mengucapkan sepatah kata “putus” dengan langtang aku meng “iya” kan karna keletihanku yang selalu mengalah terhadapnya, tapi baik buruknya dia takan aku lupakan karna telah memberikan warna dalam hidupku.

“Rintik hujan malam ini mengantarkan kenangannku kepadamu”
Imam Kasogi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar