Rabu, 08 Mei 2013

20 Desember 2012

Beberapa bulan pendekatan dia yang membuatku merasa nyaman bersamanya, walau kami hanya berkenalan lewat jenaring sosial dan mulai bertukar nomor handphone, 20 desember 2012 menjadi saksi bagi kami mengikat janji, sama setiap orang yang menjalani hubungan selalu berharap akan  berjalan dengan mulus tanpa rintangan bahkan kerikil sekecil apapun, namun semua tak berjalan seperti yang kami harapkan, setelah setahun dua bulan kami memilih untuk mengakhiri hubungan, cuma karena masalah sepele.
Dia memang tempramental, aku pun yang sering meredam entah kenapa waktu itu juga ikut meledak, selang beberapa hari setelah masalah dia datang meminta maaf berharap kami kembali, tapi aku lebih memilih mengikuti pikiran ketimbang mengikuti hati, saat itu yang ku pikirkan hanya ingin memberinya pelajaran, aku tidak memikirkan akibat dari jalan yang ku pilih, padahal hati dan perasaan ku masih menetap masih melekat pekat kepadanya.
Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melupakannya, banyak masa yang kami lakukan bersama, dari suka sampai duka, dan keluarga juga telah mengetahui tentang hubungan kami, ini kesalahanku, pelajaran buatku.
Bahkan sampai sekarang tidak ada yang berubah sedikitpun tentang perasaanku padanya, aku rindu saat bersamanya, rindu senyumnya, rindu tawa renyahnya, rindu masakannya, rindu marahnya, aku rindu segala hal tentangnya, tentang yang kami telah lewati bersama,
Andai aku punya mesin waktu, yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan dengannga, masa-masa saat aku dan dia masih baik-baik saja. Andai aku punya mesin waktu, aku ingin mengubah sikap-sikap burukku yang mungkin menyebabkan dia pergi secepat ini. Andai aku punya mesin waktu, aku ingin.... Dia kembali.

                                                                                                           CM

Rabu, 02 Januari 2013

JIKA BERBEDA KENAPA HARUS ADA CINTA?



Hari ini 25 Desember aku mendapatkan ucapan selamat pagi dari kamu dan ucapan natal, namun pada hari yang membahagiakan ini aku tak juga berani menghampiri rumah yang berwarna putih dan berpagar lumayan tinggi berwarna hitam kusam itu rumah mu, aku takut menghampiri rumah istimewa mu, takut melihat tampak indahmu, secuil cahaya matamu bagi ku segudang keindahan, segudang ke istimewaan, tanpa ku pungkiri kebaikan mu mengantarkanku pada ujung cinta yang tak ku inginkan karna kita berbeda, kamu memegang kalung salib sedangkan aku memegang tasbih, kamu melipat tangan sedangkan aku menengadahkan tangan, nyatanya kita berbeda agama, berbeda kepercayaan. Namun mengapa cinta ini di anugrahkan untuk ku juga untuk mu yang jelas-jelas kita berbeda dalam hal yang sangat besar “agama”, karna satu keimanan menentukan ujung dari kisah percintaan, kita selalu mengabaikan mereka yang melihat jijik terhadap kita yang jelas- jelas berbeda akan kepercayaan, mereka hanya bisa mencibir tanpa merasakan yang kita rasakan, apa mereka tak pernah merasakan cinta, cinta yang begitu dalam, cinta yang begitu melekat, cinta yang begitu mengikat.
                         
                         
                              Imam Kasogi :)